Jumat, 18 Februari 2011

DIANTARA PILIHAN

Mana yang harus aku pilih? itulah yang selalu keluar dari dalam pikiran. Memang hidup ini berada pada dua pilihan. Kalau aku pilih yang satu, tentunya pilihan yang lain harus aku tinggalkan. Padahal kedua pilihan itu sangat berarti bagi hidupku. Namun apalah buat jika itu suatu kondisi yang harus dijalani.

Menjalani kehidupan ini memang berat, penuh dengan berbagai pertimbangan. Namun jika mampu memilih mana yang lebih baik, insya Allah kehidupan masa depan akan lebih bermanfaat.

Namun untuk menjalani kehidupan ini bisa begitu saja?
Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih suatu pertimbangan, yaitu :

1. seberapa besar tingkat kemaslahata yang dialami oleh diri dan orang lain?
2. Dampak yang diakibatkan apabila salah satu ditinggalkan, dan memilih yang baru?
3. Bagaimana kemanfaatan yang akan dinikmati oleh orang lain yang terkait.

hal di atas mungkin salah satu upaya yang dilakukan untuk memilih satu pilihan. Memang sulit untuk menentukan pilihan. Penentuan salah satu pilihan bisa dilakukan dengan cara lahiriah dan batiniah.
Secara lahiriah, kita berupaya untuk menentukan mana yang sekira-kiranya dapat memberikan keuntungan secara lahir, namun perlu kita kaji pula tentang usaha batiniah yaitu berkaitan dengan pendekatan kepada sang Pencipta.

Doakan aku, aku harus memilih salah satu diantara dua pilihan, yang kedua-duanya itu memang penting bagi kehidupan.

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 03 Desember 2010

INGATKAN DIRI KITA

Kegerlapan dan kegelimangan harta, itulah yang mungkin didambakan oleh setiap manusia. Siapa sih yang tidak mau????? Anda????? jawabanya ada dalam diri anda.

Harta berlimpah, kesenangan tidak kurang itulah yang didambakan oleh setiap insan manusia di dunia. Namun terkadang dengan kegelimangan itu manusia terkadang lupa akan arti hidup yang sebenarnya.
Kita simak di lingkungan sekeliling kita, janganlah dulu di Kota besar, di lingkungan "DISKOTIK" (di sisi kota saeutik) pun sudah tampak kecenderungan atas kondisi yang terkadang orang lupa akan kehidupan sebenarnya namun tidak semua orang seperti itu. Kita tau bahwa hidup yang sebenarnya adalah hidup pada kehidupan ke 2, yaitu hidup setelah mati.
Kecenderungan itu tampak dari kegiatan orang-orang sewaktu adzan sholat, bahkan yang paling terlihat sewaktu adzan magrib. Seakan-akan seruan Illahi hanyalah senandung irama yang disamakan dengan senandung musik tape atau CD yang tiada beban untuk mendengarkannya. Justru tambah asyik bermain karaoke atau main apa yang dijadikan kesenangannya tanpa memperdulikan seruan ilah yang mengajak untuk bertaubat.
Apabila hal ini tidak berubah, mau jadi apa kondisi negara ini?
Maka dari itu mari kita sadarkan diri oleh diri kita sendiri. apabila disadarkan oleh orang lain mungkin akan sulit. Mari kita bertaubat sebelum azal menjemput.


Ingat kehidupan yang sebenarnya adalah nanti pada hidup ke 2. Isilah hidup pertama ini dengan tanaman amal yang bisa kita panen pada kehidupan ke 2. INGAT MATI SEDANG MENUNGGU.!!!!!!!

[+/-] Selengkapnya...

Minggu, 28 November 2010

HIDUP PERTAMA ADALAH PROSES HIDUP KE 2 ADALAH TUJUAN

Kehidupan manusia berawal dari tidak ada, melalui rahim seorang ibu mulailah hidup awal manusia. Awal kehidupan itu bukannlah kemerdekaan yang akan diperoleh tetapi awal dari perjuangan hidup seorang insan untuk menuju kehidupan berikutnya. Dalam perjuangan hidup seorang manusia, akan dihadapkan dalam dua posisi pilihan yaitu pilihan baik dan pilihan jelek. Kedua posisi ini akan menentukan awal kehidupan kedua. Apa itu kehidupan ke dua? yaitu kehidupan yang terjadi setelah semua makhluk mati. Dengan demikian kehidupan kedua ini merupakan tujuan hidup sebenarnya, sedangkan kehidupan yang sekarang kita jalani merupakan proses untuk mencapai pada kehidupan ke dua yang penuh dengan segala pengorbanan.

Dalam perjuangan proses kehidupan manusia selalu diberi ujian. Ujian seorang insan akan dihadapkan pada dua kondisi yaitu ujian dengan berlimpah kebahagiaan, dan ujian dengan serba kekurangan.
Orang yang diberi ujian dengan kebahagiaan akan terbagi pada dua kondisi. Kondisi pertama yaitu yang selalu bersyukur dan selalu ingat pada yang telah memberikan kebahagiaan. Kondisi kedua adalah orang yang diberi ujian dengan kebahagiaan tetapi kurang bersyukur kepada Kholik yang telah memberikan kebahagiaan itu sehingga lupa akan apa-apa yang telah diberikan-Nya. Dari kedua kondisi ini celakalah orang yang diberi kebahagiaan tetapi kurang bersyukur pada-Nya.
Lain halnya dengan kondisi orang yang diberi siksaan dalam hidup, sudah serba kekurangan ditambah lagi tidak ingat pada yang Menghidupkannya. ini orang yang nantinya mengalami kegagalan dalam hidup kedua.

Kehidupan kedua akan dapat diprediksi, jika pada proses perjuangan kehidupan pertama berada pada kodisi yang baik, dengan selalu ingat padaNya, niscaya tujuan kehidupan kedua akan dinikmati. Begitu pula sebaliknya. Maka dari itu dengan tulisan ini mengingatkan pada kondisi apa perjuangan kita dalam hidup sekarang ini??????? Jawablah oleh diri kita sendiri!!!!!!

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 29 April 2010

APA YANG ANDA PIKIRKAN?

Kehidupan sehari-hari pasti penuh dengan kegiatan rutin. Dengan kerutinan itulah terkadang lupa akan pikiran yang baik dan yang buruk. Agar Anda bisa menjadi orang yang baik, coba renungkan tulisan di bawah ini

1. Apa sih perbuatan baik yang telah Anda berikan pada orang lain?
2. Apa sih perbuatan jelek yang telah Anda terima pada orang lain?
3. Apa sih perbuatan baik yang telah Anda terima dari orang lain?
4. Apa sih perbuatan jelek yang telah Anda berikan pada orang lain?


mari kita kaji,
Apabila dalam otak Anda terdapat pikiran no. 1 dan 2 cenderung Anda orang sombong.
dan Apbila dalam otak Anda terdapat pikiran nomor 3 dan 4 maka bahagialah anda karen akan menuju jadi orang baik.

Pecaya atau tidak terserah Anda.

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 14 April 2010

PETUNJUK MENJADI PEMIMPIN YANG BAIK

Petunjuk Menjadi Pemimpin yang Baik
Untuk menjadi pemimpin yang baik, di samping harus ter¬penuhi syarat-syarat di atas, juga harus rnemperhatikan pedoman¬ pedoman berikut ini.


a) Menjunjung tinggi prinsip musyawarah
Dalam sejarah Islam, prinsip musyawarah telah digunakan oleh Nabi, para sahabat serta para khalifah yang menggantikannya. Mereka menjunjung tinggi prinsip musyawarah dalam me¬nyelesaikan berbagai permasalahan sosial, politik, pertahanan, dan keamanan. Allah SWT menegaskan:
"Dan urusan-urusan mereka (diselenggarakan) dengan musyawarah di antara mereka'' (Q.S. Asy-Syura: 38)
"Bermusyawarahlah kamu dalam, menyelesaikan urusanmu" (Q.S. Ali Imran:159).

b) Membuat kebijaksanaan dan perintah yang baik dan benar
Seorang pemimpin dalam menyelenggarakan kepemimp¬inannya, sudah semestinya membuat berbagai kebijakan untuk mencapai kemajuan dan perkembangan masyarakatnya, melalui cara-cara yang benar dan tidak mengarahkan masyarakatnya untuk maksiat dan durhaka kepada Allah SWT.
Meskipun semua masyarakat harus taat kepada pemimpin, sebagaimana firman Allah:
Ta'atilah Allah dan taatilah rasuf dan ulil amri di antara kamu (An-Nisaa : 59)
Namun hanya kebijaksanaan yang tidak bertentangan dengan syari'atlah yang wajib ditaati dan diikuti oleh masyarakatnya.
"Dan tidak (boleh) taat dalam (hal-hal yang menjurus kepada) maksiat kepada Allah. Sesungguhnya taat (diwajibkan) atas (hal-¬hal yang) ma'ruf " (H.R. Ahmad).

c) Memiliki pengetahuan yang memadai
Seorang pemimpin semestinya memiliki pengetahuan dan keahlian dalam masalah kepemimpinan. Sebab jika seorang pemimpin tidak mengetahui seluk-beluk kepemimpinan, maka kehancuranlah yang akan didapatnya. Hal ini ditegaskan Rasulullah SAW:
Jika satu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya" (H.R. Al-Bukhari)

d) Ikhlas
Dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan, seorang pemimpin semestinya berkerja semata-mata untuk mencari ridla Allah SWT dan bersikap ikhlas. Sikap ridla dan ikhlas inilah yang akan membuat segala macam pekerjaannya tidak membebaninya. Adanya pujian, sanjungan atau cercaan dan makian tidak seharusnya memp2ngaruhi semangat kerjanya. Dalam kaitan ini Allah berfirman:
"Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah me¬mutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-¬hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka" (Q.S. AI-Hijr: 39¬40).

e) Bertanggung jawab
Seorang pemimpin semestinya akan menerima risiko apapun yang akan ditanggungnya. (tulah jiwa pemimpin yang bertanggung jawab. Seorang pemimpin yang baik, akan merasa bertanggung jawab apabila bawahannya ternyata bertindak salah.
Prinsip pertanggungjawaban (mas'uliyyah) dalam ajaran Islam sangat ditonjolkan, karena segala amal dan perbuatan kita, sekecil apapun akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SVJT: Sabda Rasulullah SAW:
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan diminta pertanggungjawaban kepemimpinannya" (H. R. Bukhari)

f) Tidak berlaku boros dan melampaui batas
Allah berfirman:
"Dan janganlah kamu mematuhi pemimpin yang melampaui batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan" (Q.S. Asy-Syu'ara: 151-152).

[+/-] Selengkapnya...

PEMIMPIN YANG BAIK

Menjadi pemimpin yang baik, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para khalifah yang menggantikannya, ajaran Islam telah menetapkan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang akan menjadi pemimpin. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut.

a) Kuat akidahnya
Kekuatan akidah menjadi syarat bagi seorang pemimpin, mengingat kekuatan akidah itulah yang akan sangat menentukan perilaku kepemimpinannya (leadership behaviour). Dasar disyaratkannya kekuatan akidah ini adalah frman Allah SWT:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu angkat jadi pemimpinmu orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang yang kafir" (Q.S. AI-Maidah: 57)

b) Adil dan jujur
Sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT:
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang¬orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali ke¬bencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu ke jakan. (Q.S. AI¬ Maidah: 8)

Dalam ayat lain diungkap sebagai berikut.
"Sesungguhnya Allah mewajibkan kamu memberikan/ menyampakkan amanat kepada ahlinya, dan bila kalian menghukumi di antara manusia hukumilah dengan cara yang adil" (Q.S. An-Nisa: 58)

c) Mencintai dan mengutamakan kepentingan rakyat dari pada kepentingan golongan
Syarat ini dipandang cukup penting, mengingat jabatan kepemimpinan secara inheren merupakan konsekuensi langsung dari adanya rakyat. Bagaimana mungkin seorang pemimpin mengabaikan kepentingan rakyat, padahal kepemimpinannya itu berasal dari rakyat yang dipimpinnya. Dalam hal ini Rasulullah SAW menegaskan:
"Sebaik-baik pemimpin adalah orang-orang yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian. Mereka mendo'akan kalian dan kalian juga mendoakan mereka. Dan seburuk-buruk pimpinan kalian adalah orang yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, mereka kalian kutuk dan mereka pun mengutuk kalian" (H.R. Muslim)

d) Mampu menumbuhkan kerjasama dan solidaritas sesama umat
Keberhasilan dan kemajuan suatu masyarakat ditentukan oleh solidaritas sosial dan jalinan kerjasama di antara anggota masyarakat. Mereka saling membantu dan saling menolong untuk mencapai kebajikan dan bukan saling bantu dan saling menolong untuk membuat kerusakan dan permusuhan. Allah SWT berfirman:
"Dan saling tolong-menolonglah kafian dalam menge jakan kebajikan dan takwa dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan" (Q.S. Al-Maidah: 2)

e) Bersikap terbuka dan sanggup mendengarkan pendapat dan ide orang lain
Sikap terbuka dan sanggup menerima gagasan dan ide orang lain disyaratkan kepada setiap pemimpin, mengingat kemampuan manusia sebagai makhluk sangat terbatas. Itulah sebabnya, untuk mencari dan menemukan kebenaran diperlukan adanya dialog yang intensif. Hanya seorang pemimpin otoriterlah yang tidak mau menerima gagasan, pendapat dan ide orang lain. Allah SWT berfirman:
"Orang-orang yang mendengarkan perkataan orang lain, kemudian mengikuti (pendapat) mana yang lebih baik, mereka itufah yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang¬orang yang mempunyai akal" (Q.S. Az-Zumar: 18).

f)Pemaaf dan memiliki jiwa toleransi yang tinggi
Firman Allah SWT:
`'Dan jika kamu memberikan hukuman, maka hukumlah dengan hukuman yang setimpal. Akan tetapi jika kamu bersabar kepada mereka, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar" (Q.S. An-Nahl: 126).

[+/-] Selengkapnya...

KEPEMIMPINAN

Kepemimpinan menurut Shihab (1997)di dalam kitab suci Al-Qur’an terdapat dua kata yang dipergunakan untuk menunjuk makna kepemimpinan. Pertama, menggunakan istilah khalifah, dan kedua memakai istilah imam. Secara semantik istilah khalifah dan imam memiliki makna yang sama. Khalifah diambil dari kata ”belakang” yang kemudian diartikan ”mengikuti” atau ”mendorong”. Sedangkan istilah Imam digunakan untuk keteladanan.

Dinyatakan pula bahwa di dalam Al-Qur’an istilah imam muncul sebanyak tujuh kali dengan makna yang berbeda-beda. Walaupun begitu, keseluruhan maknanya tertuju pada arti ”sesuatu yang dituju”dan atau ”diteladani”. Selain itu, di dalam Al-Qur’an memuat pula istilah aimmah sebagai bentuk jamak dari imam. Sementara itu, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa sebutan imam ditarik dari perbandingan (khalifah) dengan pemimpin (imam) shalat, sebab khalifah sentantiasa diikuti orang, mirip seperti pemimpin shalat. Oleh karena itu, khalifah disebut sebagai ”imam besar” (Khan, 1983 : 120).
Dari uraian di atas telah dikemukakan beberapa definisi tentang kepemimpinan, dan tentunya masih banyak definisi kepemimpinan yang bisa ditemukan lagi Ralph M. Stogdill (1974; 7–15) mengklasifikasikan definisi kepemimpinan sebagai berikut :
(1) kepemimpinan sebagai fokus proses-proses kelompok; (2) kepemimpinan sebagai suatu kepribadian; (3) kepemimpinan sebagai seni mempengaruhi orang lain; (4) kepemimpinan sebagai penggunaan pengaruh; (5) kepemimpinan sebagai tindakan atau tingkah laku; (6) kepemimpinan sebagai bentuk persuasi; (7) kepemimpinan sebagai hubungan kekuasaan; (8) kepemimpinan sebagai alat mencapai tujuan; (9) kepemimpinan sebagai akibat interaksi; (10) kepemimpinan sebagai perbedaan peran; (11) kepemimpinan sebagai inisiasi struktur.

Setelah mengkaji pendapat-pendapat tentang kepemimpinan pada umumnya ternyata setiap para ahli berbeda mengenai konsep dasar tentang kepemimpinan. Perbedaan ini pada dasarnya hanya soal visi saja dan tergantung pada sudut pandang berdasarkan disiplin ilmu yang berbeda pula, sebagian menganggap kepemimpinan sebagai keperibadian. Adapula yang mengartikan kepemimpinan sebagai suatu seni untuk mempengaruhi orang yang dipimpinnya. Selain itu kepemimpinan sebagai pemaksaan atau pendesakan secara tidak langsung.
Petunjuk-petunjuk Al-Qur'an dan as-Sunnah tentang ke¬pemimpinan bersifat universal. Universalitas petunjuk-petunjuk tersebut berlaku, baik untuk kepemimpinan yang bersifat formal maupun informal, sebagaimana yang kita kenal dalam konsep kepemimpinan di lingkungan masyarakat Indonesia.
Pada dasarnya, AI-Qur'an dan Hadits tidak membedakan jenis kepemimpinan dalam masyarakat. Karena menurut konsepsi Islam, seorang pemimpin masyarakat, idealnya juga harus menjadi pemimpin agama. Muhammad SAW adalah pemimpin masyarakat sekaligus pemimpin agama dan tokoh spiritual pada masyarakat Madinah dan daerah-daerah lain yang berada dalam kekuasaannya. Demikian pula dengan para khalifah yang menggantikannya. Dengan demikian, istilah pemimpin formal dan informal tidak akan pernah kita temukan dalam kamus fiqh Islam.
Konsep pemimpin formal (formal leader) dan informal (informal leader) baru kita jumpai dalam teori-teori manajemen dan kepemimpinan modern. Pemimpin formal, biasanya diartikan sebagai orang yang secara resmi diangkat-dalam jabatan kepemimpinan, dan teratur dalam organisasi secara hieraki. Sedangkan pemimpin informal -adalah pemimpin yang tidak mempunyai dasar kepangkatan yang resmi dan tidak nyata dalam hierarki organisasi.
Kendati demikian, dalam beberapa hadits ditemukan pembedaan antara umara (yang kita kenal sebagai pemimpin formal) dan ulama (yang sering kita sebut sebagai pemimpin informal). Hadits-hadits tersebut, di antaranya:
“Ada dua kelompok manusia, jika keduanya baik, maka masyarakat semuanya akan baik, dan jika keduanya rusak maka rusak pula seluruh masyarakat. Mereka adalah para ulama dan umara" (H.R. Ibnu Abdillah).
"Kuatnya negara karena empat perkara: ilmunya para ulama; keadilan para umara; kedermawanan orang-orang kaya, dan doanya orang-orang fakir"

[+/-] Selengkapnya...

Ada memiliki masalah dengan tugas anda?

Apa salahnya jika anda mencoba peluang ini????....

Loading...